ANALISIS PUISI PEREMPUAN DENGAN PENDEKATAN
OBJEKTIF
Pendekatan
objektif merupakan pendekatan yang terpenting sebab pendekatan apapun yang
dilakukan pada dasarnya bertumpu atas karya sastra itu sendiri. Secara historis
pendekatan ini dapat di telusuri pada zaman Aristoteles dengan pertimbangan
bahwa sebuah tragedi terdiri atas unsur-unsur kesatuan, keseluruhan ,kebulatan
dan keterjalinan. Organisasi atas keempat unsur itulah yang kemuidan membangun
struktur cerita menjadi plot.
Pendekatan
objektif dengan demikian memusatkan perhatian semata-mata pad unsur-unsur yang
dikenal dengan analisis intrinsik. Konsekuensi logis yang di timbulkan adalah
mengabaikan bahkan menolak semua unsur ekstrinsik , seperti aspek historis,
sosiologis, politis, dan unsur-unsur sosial kultural lainnya, termasuk
biografi. Oleh karena itulah pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi,
analisis ergocentric, pembacaan miskrokopi. Pemahaman dipusatkan pada analisis
terhadap unsur-unsur dalam dengan mempertimbangkan keterjalinan antar unsur
disatu pihak, dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak yang lain.
Dengan
adanya penolakan terhadap unsur-unsur yang ada diluarnyam, maka masalah
mendasar yang harus diperhatikan dalam pendekatan objektif harus di cari dalam
karya tersebut, seperti citra bahasa, stilistika dan aspek-aspek lain yang
berfungsi untuk menimbulkan kualitas etetis. Dalam fiksi misalnya, yang dicari
adalah unsur-unsur plot, tokoh, latar kejadian, sudut pandang dan sebagainya.
Melalui pendekatan objektif, unsur-unsur karya akan diekspolitasi semaksimal
mungkin.
Pada bait pertama yang hanya terdiri dari satu larik diawali dengan kalimat sederhana saja untukmu. Dalam kalimat ini penyair seolah mengatakan kepada bahwa kau itu seharusnya seperti ini tidak usah berbelit-belit tapi sederhana saja. Pada bait kedua penutur atau penulis seoalah berdialog dengan sang wanita yang ada dalam cerita puisi ini, dengan kalimat jangan kau tunggu aku, adalah ujaran dengan kalimat langsung seolah di mana si penutur sedang berdialog dengan lawan bicaranya (orang kedua) yang ia sebut dengan kata kau
akan memanggilmu bidadari.
itu tak akan pernah !
sebab kau kuharap menjadi perempuan
yang datang dengan secangkir air untuk lelahku.
Bukan dengan selendang
yang tak lepas membentang di pundak
hingga ke ujung jari
menjadi beban untuk ditanggalkan.
Kalimat di menggambarkan bahwa penulis secara langsung mengatakan kepada si perempuan agar jangan menunggunya memangilnya bidadari, karena penulis tak mengaharapkan perempuan yang cantik namun ia mengharapkan perempuan yang bisa memperhatikannya, yang disaat lelah ia bia memberikannya secangkir air untuk dirinya, bukan dengan kecantikan hingga menimbulakan kesombongan dan untuk melepaskan kesombongan itu akan menjadi sebuah beban untuk ditanggalkan atau dilepaskan.
Pada bait ke tiga yang terdiri dari tiga larik
ketahuilah
aku mencintai kamu
karena dan dengan harapan.
Kalimata di atas juga si penulis seolah berdialog langsung dengan si perempuan yang dalam hal ini kata kamu, penulis di sini berusaha mengatakan bahwa ia mencintai si perempuan dan hal itu lebih di perjelas lagi dengan kata ketahuilah, karena ia berharap si perempuan bisa berubah sehingga dia berharap agar itu terjadi.
Tokoh yang ada dalam puisi ini adalah si aku( penulis ) dan si perempuan.tema yang diangkat dalam puisi ini adalah tentang seorang laki-laki yang megharapkan perhatian dari seorang wanita bukan mengharapkan kecantikannya. Amanat yang ada dalam puisi ini adalah agar seorang lelaki hendaknya mencari wanita yang sederhan dan bisa memperhatikannya dengan baik, dan bagi seorang perempuan agar tidak menyombongkan kecantikannya, karena laki-laki tidak mencari semua itu, namun yang di tunggu adalah apakah wanita itu bisa melayani laki-laki dengan baik atau tidak, amanat yanga ada dalam puyisi sangat sesuai sekali dengan perkembangan zaman karena kebanyakan wanitta di zaman sekarng ini sudah lebih memperhatikan sikap daripada sikap, dan sifat, demikina juga halnya dengan laki-laki karena kebanykan hanya melihat perempuan dari sisi luarnya saja yaitu dari sudut kecantikannya, tidak pernah m,elihat apakh dia baik atau tidak . Jika dilihat dengan baik maka gaya bahasa yang digunakan dalam karaya ini tidak begitu sulit karean masih menggunkan bahasa yang biasa belum terlalu susah untuk memaknai arti dari puisi ini. Sudut pandang yang di gunakan adalah orang pertama tunggal dengan gaya akuan.
KESIMPULAN
Jika kita melihat puisi perempuan maka kita akan melihat keinginan seorang lelaki yang ingin mendapatkan seoarang perempuan yang bisa memperhatikannya yang ketika ia butuhkan ia selalu ada di dekatnya, bukan seorang wanita yang cantik dan sombong .
Lampiran
Puisi karya Fransiskus S Patadungan
PEREMPUAN
sederhana saja untukmu.
jangan tunggu aku
akan memanggilmu bidadari.
itu tak akan pernah !
sebab kau kuharap menjadi perempuan
yang datang dengan secangkir air untuk lelahku.
Bukan dengan selendang
yang tak lepas membentang di pundak
hingga ke ujung jari
menjadi beban untuk ditanggalkan.
ketahuilah
aku mencintai kamu
karena dan dengan harapan.
31 mei 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar