JENIS-JENIS PUISI
Ditinjau dari bentuk dan isinya, puisi dapat dibedakan
menjadi jenis berikut.
Puisi epik, yakni suatu puisi yang di dalamnya mengandung cerita kepahlawanan, baik
kepahlawanan yang berhubungan dengan legenda, kepercayaan, maupun sejarah.
Puisi epik dibedakan menjadi folk epic, yakni jika nilai akhir puisi itu
untuk dinyanyikan, dan literary epic, yakni jika nilai akhir puisi itu
untuk dibaca, dipahami, dan diresapi maknanya.
Puisi naratif, yakni puisi yang di dalamnya mengandung suatu cerita, menjadi pelaku,
perwatakan, setting, maupun rangkaian peristiwa tertentu yang menjalin
suatu cerita. Jenis puisi yang termasuk dalam jenis puisi naratif ini adalah
balada yang dibedakan menjadi folk ballad dan literary ballad. Ini
adalah ragam puisi yang berkisah tentang kehidupan manusia dengan segala macam
sifat pengasihnya, kecemburuan, kedengkian, ketakutan, kepedihan, dan
keriangannya. Jenis puisi lain yang termasuk dalam puisi naratif adalah poetic
tale, yaitu puisi yang berisi dongeng-dongeng rakyat.
Puisi lirik, yakni puisi yang berisi luapan batin individual penyairnya dengan segala
macam endapan pengalaman, sikap, maupun suasana batin yang melingkupinya. Jenis
puisi lirik umumnya paling banyak terdapat dalam khazanah sastra modern di
Indonesia. Misalnya, dalam puisi-puisi Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, dan
lain-lain.
Puisi dramatik, yakni salah satu jenis puisi yang secara objektif menggambarkan perilaku
seseorang, baik lewat lakuan, dialog, maupun monolog sehingga mengandung suatu
gambaran kisah tertentu. Dalam puisi dramatik dapat saja penyair berkisah
tentang dirinya atau orang lain yang diwakilinya lewat monolog.
Puisi didaktik, yakni puisi yang mengandung nilai-nilai kependidikan yang umumnya
ditampilkan secara eksplisit.
Puisi satirik, yaitu puisi yang mengandung sindiran atau kritik tentang kepincangan atau
ketidakberesan kehidupan suatu kelompok maupun suatu masyarakat.
Romance, yakni puisi yang berisi luapan rasa cinta seseorang terhadap sang
kekasih.
Elegi, yakni puisi ratapan yng mengungkapkan rasa pedih dan kedukaan seseorang.
Ode, yakni puisi yang berisi pujian terhadap seseorang yang memiliki jasa ataupun
sikap kepahlawanan.
Hymne, yakni puisi yang berisi pujian kepada Tuhan maupun ungkapan rasa cinta
terhadap bangsa dan tanah air.
BANGUN STRUKTUR PUISI
Puisi terdiri atas dua macam struktur, yaitu:
a. Struktur fisik, meliputi: diksi (diction), pencitraan, kata
konkret (the concentrate word), majas (figurative language), dan
bunyi yang menghasilkan rima dan ritma.
b. Struktur batin, meliputi: perasaan (feeling), tema (sense),
nada (tone), dan amanat (atention).
Pemahaman terhadap unsur-unsur
tersebut bukan saja akan bermanfaat untuk mengapresiasi sebuah puisi, melainkan
juga ketika kamu akan menulis puisi. Kesatuan dan kepaduan struktur tersebut
dapat melahirkan karya puisi yang memiliki nilai seni dan nilai makna yang
tinggi.
KATA DALAM PUISI
Berdasarkan
bentuk dan isi, kata-kata dalam puisi dapat dibedakan, antara lain:
a. Lambang, yakni jika kata-kata itu mengandung makna
seperti makna dalam kamus (makna leksikal) sehingga acuan maknanya tidak
merujuk pada berbagai macam kemungkinan lain (makna denotatif).
b. Utterance,
yakni kata-kata yang mengandung makna sesuai dengan keberadaan dalam konteks
pemakaian. Kata "jalang" dalam baris puisi Chairil, "Aku ini
binatang jalang", telah berbeda maknanya dengan "wanita jalang itu
telah berjanji mengubah nasibnya".
c. Simbol, yakni
jika kata-kata itu mengandung makna ganda (makna konotatif) sehingga untuk
memahaminya seseorang harus menafsirkannya (interpretatif) dengan melihat
bagaimana hubungan makna kata tersebut dengan makna kata lainnya (analisis kontekstual),
sekaligus berusaha menemukan fitur semantisnya lewat kaidah proyeksi,
mengembalikan kata ataupun bentuk larik (kalimat) ke dalam bentuk yang lebih
sederhana lewat pendekatan parafrastis.
Lambang dalam puisi mungkin dapat berupa kata tugas, kata dasar, maupun
kata bentukan. Adapun simbol dapat dibedakan antara lain:
a. Blank symbol,
yakni jika simbol itu, meskipun acuan maknanya bersifat konotatif, pembaca
tidak perlu menafsirkannya karena acuan maknanya sudah bersifat umum, misalnya
"tangan panjang", "lembah duka", atau "mata
keranjang",
b. Natural symbol,
yakni jika simbol itu menggunakan realitas alam, misalnya "cemara pun
gugur daun", "ganggang menari", atau "hutan kelabu dalam
hujan",
c. Private symbol,
yakni jika simbol itu secara khusus diciptakan dan digunakan penyairnya,.
misalnya "aku ini binatang jalang", "mengabut nyanyian",
atau 'lembar bumi yang fana". Batas antara private symbol dengan natural
symbol dalam hal ini sering kali kabur.
Ada pula istilah pengimajian, yakni penataan kata yang menyebabkan
makna-makna abstrak menjadi konkret dan cermat.
Adanya kekonkretan dan kecermatan makna kata-kata dalam puisi membuat
pembaca lebih mampu mengembangkan daya imajinasinya sekaligus mengembangkan
daya kritisnya dalam upaya memahami totalitas makna suatu puisi.
Selain pengimajian, terdapat juga istilah pengiasan, yakni pengimajian
dengan menggunakan kata-kata kias sehingga menimbulkan makna yang lebih konkret
dan cermat. Agar mampu mengapresiasi puisi dengan baik, pembaca tidak cukup
menghafal konsep-konsep di atas, tetapi juga harus terampil mengidentifikasi
ragam kata dalam suatu puisi, terampil menentukan makna katanya serta terampil
menghubungkan makna kata yang satu dengan lainnya.
BAIT DALAM PUISI
Bait merupakan satuan yang lebih
besar dari baris yang ada dalam puisi. Bait merujuk pada kesatuan larik yang
berada dalam rangka mendukung satu kesatuan pokok pikiran, terpisah dari
kelompok larik (bait) lainnya. Dalam puisi, keberadaan bait sebagai kumpulan
larik tidaklah mutlak.
Peranan bait dalam puisi
adalah untuk membentuk suatu kesatuan makna dalam rangka mewujudkan pokok
pikiran tertentu yang berbeda dengan satuan makna dalam kelompok larik lainnya.
Pada sisi lain, bait juga berperan menciptakan tipografi puisi.
Selain itu, bait juga
berperanan dalam menekankan atau mementingkan suatu gagasan serta menunjukkan
adanya loncatan-loncatan gagasan yang dituangkan penyairnya. Sekarang, dengan
jelas kita dapat mengetahui bahwa bait-bait dalam puisi dapat diibaratkan
sebagai suatu paragraf karangan yang paragraf atau baitnya telah mengandung
pokok-pokok pikiran tertentu.
RIMA DAN IRAMA DALAM
PUISI
Ke manakah pergi
mencari matahari
ketika salju turun
pohon kehilangan daun
Ke manakah jalan
mencari lindungan
ketika tubuh kuyup
dan pintu tertutup
Ke manakah lari
mencari api
ketika bara hati
padam tak berarti
Ke manakah pergi
Ke manakah pergi
selain mencuci diri
Setelah membaca puisi berjudul
"Salju" karya Wing Kardjo tersebut, apakah yang pertama kali menarik
perhatian kita? Sejalan dengan telaah unsur bangun struktur, kita tentunya
mencoba mengamati contoh konkret dari apa yang disebut bangun struktur puisi.
Dari sejumlah unsur struktur puisi yang telah diungkapkan, sekarang kita
pusatkan perhatian pada aspek bunyi terlebih dahulu.
Jika berbicara tentang masalah bunyi
dalam puisi, kita harus memahami konsep tentang hal-hal berikut.
a. Rima, menyangkut pengulangan bunyi yang
berselang, baik di dalam larik puisi maupun pada akhir larik sajak yang
berdekatan.
b. Irama, yakni paduan bunyi yang menimbulkan unsur
musikalitas, baik berupa alunan tinggi-rendah, panjang-pendek, dan kuat-lemah
yang keseluruhannya mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana, serta nuansa
makna tertentu. Timbulnya irama itu, selain akibat penataan rima, juga akibat
pemberian aksentuasi dan intonasi maupun tempo sewaktu melaksanakan pembacaan
secara oral.
c. Ragam bunyi meliputi euphony, cacophony,
dan onomatope. Rima adalah bunyi yang berselang atau berulang, baik di
dalam larik puisi maupun pada akhir larik-larik puisi. Pada contoh puisi
tersebut, misalnya, dapat dilihat adanya pengulangan bunyi vokal (e) seperti
tampak pada larik "ke manakah pergi". Perulangan bunyi demikian
disebut asonansi.
Selain itu, juga dapat diamati
adanya perulangan bunyi konsonan (n) seperti nampak pada larik "pohon
kehilangan daun". Perulangan bunyi konsonan itu disebut aliterasi.
Perulangan bunyi seperti contoh tersebut berlaku di antara kata-kata dalam satu
larik. Rima demikian itu disebut rima dalam.
Lebih lanjut, jika kita mengamati
bait pertama puisi "Salju" tersebut, tampak juga adanya paduan bunyi
antara setiap akhir larik sehingga menimbulkan pola persajakan vokal /i/ —
vokal /i/ dengan konsonan /n/ — konsonan /n/ seperti tampak pada bentuk . . .
pergi/. . . matahari/. . . turun/. . . daun. Rima demikian itu, yakni rima yang
terdapat pada akhir larik puisi, disebut rima akhir.
Pada contoh puisi tersebut juga
dapat kita jumpai adanya pengulangan kata "ketika" di antara
bait-bait. Ulangan kata demikian disebut rima identik. Contoh lain misalnya, dapat
diamati pada puisi berjudul "Sajak Samar" karya Abdul Hadi W.M.
berikut.
Ada yang memisahkan kita, jam dinding ini
ada yang mengisahkan kita, bumi bisik-bisik ini
ada. Tapi tak ada kucium wangi kainmu sebelum
pergi tak ada. Tapi langkah gerimis bukan sendiri.
Pengulangan bunyi disebut rima
sempurna jika meliputi baik pengulangan konsonan maupun vokal, seperti tampak
pada bentuk "pergi" dan "sendiri", larik 3 dan 4 puisi
tersebut. Adapun pengulangan bunyi disebut rima rupa jika pengulangan hanya
tampak pada penulisan suatu bunyi, sedangkan pelafalannya tidak sama. Misalnya,
rima antara bunyi vokal /u/ dalam bentuk "bulan" serta bunyi vokal
/u/ dalam "belum", seperti tampak pada salah satu puisi Abdul Hadi
W.M. berjudul "Dan Bajumu" berikut.
Pasang bajumu. Dingin akan lalu melewat
menyusup dekat semak-semak pohon kayu
Tapi bulan belum kelihatan, puncak-puncak bukit
sudah berhenti membandingkan dukamu,
sehari keluh kesah
Kita tentunya telah mengenal istilah
euphony sebagai salah satu ragam bunyi yang mampu menuansakan suasana
keriangan, vitalitas, maupun gerak. Bunyi euphony umumnya berupa
bunyibunyi vokal. kita dapat mengetahui bahwa kata-kata yang mengandung sesuatu
yang menyenangkan umumnya mengandung bunyi vokal, seperti tampak pada kata
"gembira", "bernyanyi", "berlari", dan lain-lain.
Pada puisi "Salju" tersebut, kita dapat melihat adanya kata
"pergi/mencari/matahari".
Berkebalikan dengan bunyi euphony,
bunyi cacophony adalah bunyi yang menuansakan suasana ketertekanan
batin, kebekuan, kesepian ataupun kesedihan. Jika bunyi euphony umumnya
terdapat dalam bentuk vokal, bunyi cacophony umumnya berupa bunyi-bunyi
konsonan yang berada di akhir kata. Bunyi konsonan itu dapat berupa bunyi
bilabial, seperti nampak pada larik-larik ketika tubuh kuyup dan pintu
tertutup.
Peranan bunyi dalam puisi meliputi
hal-hal berikut:
- untuk menciptakan nilai keindahan lewat unsur musikalitas atau kemerduan;
- untuk menuansakan makna tertentu sebagai perwujudan rasa dan sikap
penyairnya;
- untuk menciptakan suasana tertentu sebagai perwujudan suasana batin dan
sikap penyairnya.
MAJAS DALAM PUISI
Beberapa contoh majas yang ada dalam puisi adalah sebagai
berikut.
a. Metafora, yakni pengungkapan yang mengandung
makna secara tersirat untuk mengungkapkan acuan makna yang lain selain makna
sebenarnya, misalnya, "cemara pun gugur daun" mengungkapkan makna
“ketidakabadian kehidupan".
b. Metonimia, yakni pengungkapan dengan
menggunakan suatu realitas tertentu, baik itu nama orang, benda, atau sesuatu
yang lain untuk menampilkan makna-makna tertentu. Misalnya, "Hei! Jangan
kaupatahkan kuntum bunga itu". "Kuntum bunga" di situ mewakili
makna tentang remaja yang sedang tumbuh untuk mencapai cita-cita hidupnya.
c. Anafora, yakni pengulangan kata atau frase
pada awal dua larik puisi secara berurutan untuk penekanan atau keefektifan
bahasa. Misalnya, terdapat dalam salah satu puisi Sapardi Djoko Damono berikut.
Kita tinggalkan kota ini, ketika menyeberang sungai
terasa waktu masih mengalir
di luar diri kita. Awas, jangan menoleh,
tak ada yang memerlukan kita lagi
tak ada yang memanggil kembali.
d. Oksimoron, yaitu majas yang menggunakan
penggabungan kata yang sebenarnya acuan maknanya bertentangan. Misalnya, pada salah satu puisi Sapardi Djoko Damono berikut.
Begini: kita mesti berpisah. Sebab
Sudah terlampau lama bercinta
CITRAAN DALAM PUISI
Citraan atau pengimajian adalah gambar-gambar dalam
pikiran dan bahasa yang menggambarkannya. Setiap gambar pikiran disebut citra
atau imaji (image). Adapun gambaran pikiran adalah sebuah efek dalam pikiran
yang sangat menyerupai, yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah
objek yang dapat dilihat oleh mata (indra penglihatan). Jika dilihat dari
fungsinya, citraan atau pengimajian lebih cenderung berfungsi untuk
mengingatkan kembali apa yang telah dirasakan.
Dengan demikian, citraan tidak
membuat kesan baru dalam pikiran. Kita akan kesulitan menggambarkan objek atau
sesuatu yang disampaikan dalam puisi jika kita belum pernah sama sekali
mengalami atau mengetahuinya. Oleh karena itu, kita akan mudah memahami puisi
jika memiliki simpanan imaji-imaji yang diperoleh dari pengalamannya.
Ada beberapa jenis citraan yang
dapat ditimbulkan puisi, yakni sebagai berikut.
a. Citraan Penglihatan
Citraan penglihatan ditimbulkan oleh
indra penglihatan (mata). Citraan ini merupakan jenis yang paling sering
digunakan penyair. Citraan penglihatan mampu memberi rangsangan kepada indra
penglihatan sehingga hal-hal yang tidak terlihat menjadi seolah-olah terlihat.
b. Citraan Pendengaran
Citraan pendengaran berhubungan
dengan kesan dan gambaran yang diperoleh melalui indra pendengaran (telinga).
Citraan ini dapat dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi suara,
misalnya dengan munculnya diksi sunyi, tembang, dendang, suara mengiang,
berdentum-dentum, dan sayup-sayup.
c. Citraan Perabaan
Citraan perabaan atau citraan tactual
adalah citraan yang dapat dirasakan oleh indra peraba (kulit). Pada saat
membacakan atau mendengarkan larik-larik puisi, kita dapat menemukan diksi yang
menyebabkan kita merasakan rasa nyeri, dingin, atau panas karena perubahan suhu
udara.
d. Citraan Penciuman
Citraan penciuman atau pembauan
disebut juga citraan olfactory. Dengan membaca atau mendengar kata-kata
tertentu, kita seperti mencium bau sesuatu. Citraan atau pengimajian melalui
indra penciuman ini akan memperkuat kesan dan makna sebuah puisi.
e. Citraan Pencicipan atau Pencecapan
Citraan pencicipan disebut juga
citraan gustatory, yakni citraan yang muncul dari puisi sehingga kita
seakan-akan mencicipi suatu benda yang menimbulkan rasa asin, pahit, asam,
manis, atau pedas.
f. Citraan Gerak
Dalam larik-larik puisi, kamu pun
dapat menemukan citraan gerak atau kinestetik. Yang dimaksud citraan gerak
adalah gerak tubuh atau otot yang menyebabkan kita merasakan atau melihat gerakan
tersebut. Munculnya citraan gerak membuat gambaran puisi menjadi lebih dinamis.
PERASAAN DALAM PUISI
Puisi menggungkapkan perasaan penyair. Nada dan perasaan
penyair akan dapat kita tangkap kalau puisi itu dibaca keras dalam pembacaan
puisi atau deklamasi. Membaca puisi atau mendengarkan pembacaan puisi dengan
suara keras akan lebih membantu kita menemukan perasaan penyair yang
melatarbelakangi terciptanya puisi tersebut.
Perasaan yang menjiwai puisi bisa
perasaan gembira, sedih, terharu, terasing, tersinggung, patah hati, sombong,
tercekam, cemburu, kesepian, takut, dan menyesal. Perasaan sedih yang mendalam
diungkapkan oleh Chairil Anwar dalam "Senja di Pelabuhan Kecil", J.E.
Tatengkeng dalam "Anakku ", Agnes Sri Hartini dalam "Selamat
Jalan Anakku", dan Rendra dalam Orang-Orang Rangkas Bitung".
UNSUR DASAR DALAM MENGANALISIS PUISI
Sebagai suatu
totalitas yang dibentuk oleh unsur intrinsik tertentu, puisi dapat dibagi dalam
beberapa lapis yang meliputi hal-hal berikut.
a. Terdapatnya sense
atau makna dalam suatu puisi, pada dasarnya akan berhubungan dengan gambaran
dunia atau makna puisi secara umum yang ingin diungkapkan penyairnya. Dalam
analisis puisi, keberadaan makna tersebut akan membuahkan pertanyaan, "Apa
yang ingin dikemukakan penyair lewat puisi yang diciptakan ini?"
b. Subject matter
adalah pokok pikiran yang dikemukakan penyair lewat puisi yang diciptakannya.
Jika sense berhubungan dengan gambaran makna dalam puisi secara umum, subject
matter berhubungan dengan satuan-satuan pokok pikiran tertentu yang secara
khusus membangun sesuatu yang diungkapkan penyair.
Oleh sebab itu, dalam analisis lapis makna puisi, pembaca akan menampilkan
pertanyaan, Pokok-pokok pikiran apa yang diungkapkan, sejalan dengan sesuatu
yang secara umum dikemukakan penyairnya?
c. Feeling
adalah sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya. Hal itu
mungkin saja terkandung dalam lapis makna puisi sejalan dengan terdapatnya
pokok pikiran dalam puisi.
d. Tone adalah
sikap penyair terhadap pembaca sejalan dengan pokok pikiran yang
ditampilkannya. Hal yang demikian mungkin saja terjadi, contohnya sewaktu kita
berbicara masalah cinta maupun tentang cinta itu sendiri kepada kekasih kita,
akan berbeda dengan sewaktu kita berbicara kepada teman. Dalam rangka menganalisis
feeling dan tone pada suatu puisi, pembaca akan berhubungan dengan upaya
pencarian jawaban atas pertanyaan. Bagaimanakah sikap penyair terhadap pokok
pikiran yang ditampilkannya? Serta bagaimanakah sikap penyair terhadap pembaca?
Jawaban yang diperoleh mungkin akan berupa sikap keterharuan, kesedihan,
keriangan, semangat, masa bodoh, menggurui, atau berbagai macam sikap lainnya
sejalan dengan keanekaragaman sikap manusia dalam menyikapi kenyataan yang
dihadapinya.
e. Totalitas makna
adalah keseluruhan makna yang terdapat dalam suatu puisi. Penentuan totalitas
makna puisi didasarkan atas pokok-pokok pikiran yang ditampilkan penyair, sikap
penyair terhadap pokok pikiran, serta sikap penyair terhadap pembaca. Hasil
rangkuman dari keseluruhannya itu akan membuahkan totalitas makna dalam suatu
puisi. Hal ini berbeda dengan sense
yang hanya memberikan gambaran secara umum saja kepada pembaca.
f. Tema adalah ide
dasar dari suatu puisi yang menjadi inti dari keseluruhan makna puisi. Tema
berbeda dengan pandangan moral meskipun tema itu dapat berupa sesuatu yang
memiliki nilai rohaniah. Hal itu disebut tidak sama dengan pandangan moral
maupun amanat. Ini karena tema hanya dapat diambil dengan jalan menyimpulkan
dasar yang terdapat di dalam totalitas makna puisi. Adapun pandangan moral atau
message dapat saja berada di dalam butir-butir pokok pikiran yang
ditampilkannya. Dengan kata lain, bidang cakupan tema lebih luas daripada
pandangan moral maupun message.
TAHAP KEGIATAN ANALISIS MAKNA PUISI
Tahap kegiatan dalam
menganalisis makna puisi pada dasarnya merupakan tahap lanjutan dari kegiatan
menganalisis bangun struktur puisi. Meskipun demikian, kegiatan analisis makna
puisi dapat juga dilaksanakan secara terpisah dan hanya pada pengidentifikasian
serta pembagiannya lebih mudah.
Tahap kegiatan yang harus ditempuh pembaca saat menganalisis lapis makna
puisi dapat dipaparkan sebagai berikut.
a. Bacalah puisi yang telah dipilih secara
berulang-ulang.
b. Berusaha memahami makna yang terkandung dalam judul
puisi.
c. Berusaha memahami gambaran makna yang ditampilkan
penyair secara umum.
d. Menetapkan kata-kata yang termasuk dalam kategori
lambang dan kata-kata yang termasuk dalam kategori simbol maupun utterance.
e. Berusaha memahami makna setiap simbol puisi yang menjadi
objek analisis.
f. Berusaha memahami makna yang terdapat dalam setiap
baris puisi.
g. Berusaha memahami hubungan makna antara baris puisi
yang satu dengan baris puisi lainnya.
h. Berusaha memahami satuan-satuan pokok pikiran, baik
yang terkandung dalam sekelompok baris maupun satuan pokok pikiran yang
terdapat dalam bait. Perlu diperhatikan dengan baik bahwa pokok pikiran atau subject matter, meskipun umumnya
tertuang dalam bait, sering kali juga tertuang dalam sekelompok baris. Hal ini
terjadi jika penyair tidak memberikan penanda bait sebagai penanda satuan
pikiran yang ditampilkannya.
i. Berusaha memahami sikap penyair terhadap pokok pikiran
yang ditampilkannya.
j. Berusaha memahami sikap penyair terhadap pembaca
sewaktu menampilkan pokok-pokok pikirannya. Merangkum hasil pemahaman pokok
pikiran, sikap penyair terhadap pokok pikiran, serta sikap penyair terhadap
pembaca dalam satu paragraf atau lebih sesuai dengan jumlah pokok pikiran yang
ada dengan menggunakan bahasa pembaca sendiri. Pada tahap ini, pembaca pada
dasarnya telah sampai pada tahap menganalisis totalitas makna puisi.
Tahapan kerja tersebut tentu saja masih bersifat lentur, dalam arti masih
bisa ditambah atau dikurangi. Selain itu, tahapan kerja bukanlah berlangsung
secara benar-benar terpisah karena dalam pelaksanaannya, batas antara tahap
yang satu dengan yang lain sering kali kabur. Akan tetapi, sebagai pedoman, tahap kerja analisis lapis makna puisi
tersebut sangat baik untuk dilaksanakan.
MEMBACAKAN PUISI
Bagaimanakah cara
mendeklamasikan puisi yang baik itu? Berikut ini teknik dasar yang dapat kita
praktikkan untuk berlatih mendeklamasikan puisi.
1. Kenali dulu gaya atau jenis puisi tersebut. Misalnya,
puisi yang berisi perjuangan nantinya harus dibawakan dengan gaya semangat.
Adapun jika puisi tersebut berisi hal yang penuh nilai-nilai religius dapat
dibawakan dengan suasana syahdu.
2. Hayati dan pahami isi puisi dengan interpretasi kita.
Hal ini akan membantu kita merasakan bahwa puisi yang dibawakan nantinya akan
menyatu dengan sanubari kita.
3. Selanjutnya, kita dapat membaca secara berulang-ulang
isi puisi tersebut. Mulanya, mungkin kita bisa
membacanya dalam hati kemudian mengucapkan secara bergumam. Selama menghayati
dengan membaca berulang-ulang, janganlah kita terpengaruh oleh suasana
sekeliling. Tanamkanlah dalam diri bahwa kita bisa masuk dalam isi dunia puisi
tersebut. Dengan begitu, kita akan menyatu dengan keseluruhan bait puisi dan
makna di dalamnya secara penuh.
4. Lakukanlah latihan membaca puisi dengan
berulang-ulang. Sebelumnya, kita dapat memberi tanda intonasi, tekanan,
atau nada pada puisi yang akan kita bacakan. Hal ini nantinya akan membantu
kita dalam mendeklamasikan isi puisi dengan pembawaan sepenuh hati. Sebagai
langkah awal, lakukanlah latihan di depan cermin. Dalam hal ini, kita sekaligus
dapat menilai gestur serta mimik kita. Selanjutnya, kita dapat mempraktikkan
pendeklamasian puisi di hadapan teman atau keluarga kita. Silakan kita meminta
pendapat dari mereka. Hal ini akan lebih membantu kita jika ada kritik atau
masukan dari orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar